Difteri – Penyebab, Gejala Dan Cara Mencegahnya

Kenali Gejala dan Penyebab Difteri untuk menjaga kesehatan orang yang kita sayangi

Setelah dihebohkan dengan fenomena pil PCC beberapa bulan yang lalu, kini masyarakat kembali di kejutkan dengan gangguan kesehatan bernama difteri. Banyak informasi yang simpang siur terkait berita bahwa penyakit ini telah menelan korban jiwa sehingga orang-orang beramai-ramai mencari informasi terkait apa itu difteri. Melalui artikel berikut ini kami hendak memberikan informasi yang akurat terkait Difteri, Penyebab dan bagaimana cara mencegah atau mengobati ketika gejalanya mulai muncul di sekitar anda.

Tentang Difteri dan Gejala Umum Yang Nampak

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae pada selaput lendir manusia seperti hidung dan tenggorokan. Penyakit ini tergolong dalam kasus penularan serius dan mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan segera. Penularan bakteri difteri bisa di lakukan dari orang yang terkontaminasi melalui beberapa cara berikut ini :

  • Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.
  • Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.
  • Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

Bakteri difteri akan menghasilkan racun yang nantinya akan membunuh sel sehat dalam tenggorokan kita. Sel-sel yang mati inilah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan dan membahayakan. Di samping itu, racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal, serta sistem saraf.

Pada awal penyebarannya, difteri kadang tidak menunjukkan gejala apapun. Penderita tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi. Apabila tidak menjalani pengobatan dengan tepat, mereka berpotensi menularkan penyakit ini kepada orang di sekitarnya, terutama mereka yang belum mendapatkan imunisasi. Dan difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari. Gejala-gejala dari penyakit ini antara lain:

  • Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
  • Demam dan menggigil.
  • Sakit tenggorokan dan suara serak.
  • Sulit bernapas atau napas yang cepat.
  • Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
  • Lemas dan lelah.
  • Pilek. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.
  • Difteri juga terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkan luka seperti borok (ulkus). Ulkus tersebut akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit.

Menurut World Health Organization (WHO), tercatat ada 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016. Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia. Tercatat 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak. Dari 3.353 orang yang menderita difteri, dan 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap.

Cara Mencegah Difteri

Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Biasanya anak-anak dan orang dewasa selama kurun waktu 5 atau 10 tahun akan mendapatkan imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus. Imunisasi ini disebut dengan imunisasi DTP, dimana sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat 3 kali imunisasi DTP. Cakupan anak-anak yang mendapat imunisasi DTP sampai dengan 3 kali di Indonesia, pada tahun 2016, sebesar 84%. Jumlahnya menurun jika dibandingkan dengan cakupan DTP yang pertama, yaitu 90%.

Cara Mengetahui Apakah Anda tertular difteri

Memang sangat sulit untuk mengetahui apakah anda tertular difteri atau tidak, karena dibutuhkan uji laboratorium untuk mengetahui tingkat kontaminasi bakteri didalam cairan air liur. Biasanya dokter akan menyarankan anda memeriksakan cairan lendir di tenggorokan, hidung atau cairan borok yang ada ditubuh anda sebelum memutuskan apakah anda terkontaminasi atau tidak.

Apabila seseorang diduga kuat tertular difteri, dokter akan segera memulai pengobatan, bahkan sebelum ada hasil laboratorium. Dokter akan menganjurkannya untuk menjalani perawatan dalam ruang isolasi di rumah sakit. Lalu langkah pengobatan akan dilakukan dengan 2 jenis obat, yaitu antibiotik dan antitoksin.

Antibiotik akan diberikan untuk membunuh bakteri dan menyembuhkan infeksi. Sedangkan antitoksin akan melemahkan bakteri dan mengeluarkannya bersamaan dengan cairan yang keluar dari mulut saat anda batuk berdahak atau bersin. Biasanya dalam waktu 2 hari anda akan diizinkan keluar dari ruang isolasi setelah rutin mengkonsumsi antibiotik, dan selama 2 minggu diminta untuk menyelesaikan konsumsi antibiotik sebagai pencegahan jika masih terdapat bakteri difteri dalam tubuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *