Batuk Berdarah, Bisa Jadi Tanda Bahaya Bagi Paru

Batuk Berdahak saja sudah merupakan tanda bahaya, apalagi jika berdarah

Batuk merupakan salah satu penyakit yang sering dijumpai di masyarakat. Batuk bisa muncul karena iritasi akibat udara kotor, terganggunya saluran pernafasan atau bahkan tertular oleh virus. Ketika tenggorokan kita sudah merasakan tidak nyaman, secara alamiah pasti kita akan terbatuk untuk menghilangkan rasa tidak nyaman tersebut. Dan setelah terbatuk, biasanya ada semacam cairan yang keluar dari tenggorokan yang kadang kita sebut sebagai dahak.

Warna dahak ini biasanya bermacam-macam, ada yang putih dan ada juga yang berwarna hijau dan berlendir. Namun bagaimana jika dahak yang keluar dari tenggorokan kita berwarna menyerupai darah? Maka ini adalah tanda-tanda yang wajib anda perhatikan, bisa jadi paru-paru anda mengalami masalah serius dan membutuhkan konsultasi medis segera.

Dalam dunia medis batuk berdarah lebih dikenal dengan istilah hemoptisis, dimana secara pasti penyebab umum dari batuk berdarah ialah adanya salah satu organ pernafasan yang mengalami infeksi berat, terserangnya tubuh oleh kaker paru-paru, dan adanya suatu masalah yang menyerang pada pembuluh darah di paru-paru. Namun disamping itu semua, masih banyak lagi penyebab yang lainnya, yang dapat memugkinkan seseorang terserang oleh batuk berdarah.

Baca Terkait : 4 Makanan Yang Baik Untuk Kesehatan Paru-Paru

Penyakit yang memungkinkan hingga terjadinya batuk berdarah.

Untuk lebih meningkatkan kewaspadaan anda terhadap batuk berdarah, berikut kami rangkumkan beberapa penyakit yang memungkinkan hingga terjadinya batuk berdarah, perhatikan tanda-tanda dan bahaya dari penyakit ini dan segera lakukan tindakan medis untuk mengetahui potensi bahaya yang menyertainya.

Vaskulitis (radang tenggorokan)

Vaskulitis adalah peradangan pada pembuluh darah yang menyebabkan perubahan pada dinding pembuluh. Perubahan yang bisa terjadi pada dinding pembuluh darah adalah penebalan, pelemahan, penyempitan, dan munculnya bekas luka. Vaskulitis terjadi karena sistem kekebalan tubuh melakukan kesalahan dan menyerang pembuluh darah. Sel yang rusak akan menghasilkan zat kimia yang menyebabkan pembuluh darah membocorkan cairan ke jaringan dan serta menimbulkan pembengkakan.

Gejala yang dialami oleh penderita Vaskulitis diantara Pegal-pegal, berkeringat di malam hari, kelelahan, sakit kepala dan gejala lain yang biasanya dialami oleh orang yang kekurangan sel darah.

Bronkitis (Radang Saluran Nafas)

Bronkitis merupakan iritasi yang terjadi dibagian bronkus atau percabangan (Y) saluran pernapasan antara paru-paru yang membawa udara ke paru-paru dan sebaliknya. Dinding bronkus menghasilkan mukosa atau lendir untuk menahan debu dan partikel lain yang bisa menyebabkan iritasi agar tidak masuk ke dalam paru-paru.

Bronkitis terbagi menjadi dua jenis. Pertama, bronkitis akut yang bertahan selama dua hingga tiga minggu dan salah satu infeksi sistem pernapasan yang paling umum terjadi dan paling sering menyerang anak-anak berusia di bawah 5 tahun. Kedua, bronkitis kronis adalah infeksi bronkus yang bertahan setidaknya tiga bulan dalam satu tahun dan berulang pada tahun berikutnya. Bronkitis kronis lebih sering terjadi pada orang dewasa di atas usia 40 tahun.

Gejala yang dialami oleh penderita bronkitis kurang lebih adalah sering mengalami sulit bernafas pada saat beraktivitas terutama ketika terjadi perubahan suhu, sakit kepala akibat kurangnya asupan oksigen, berkurangnya daya penglihatan (kabur), menggigil, sakit punggung, sakit otot, demam ringan dan nyeri tenggorokan.

Pneumonia (Paru-Paru Basah)

Dan penyakit terakhir yang perlu diwaspadai adalah pneumonia, karena setiap tahunnya pneumonia menjangkiti sekitar 450 juta orang, tujuh persen dari total populasi dunia, dan menyebabkan sekitar 4 juta kematian. Pneumonia atau dikenal juga dengan istilah paru-paru basah adalah infeksi yang memicu inflamasi pada kantong-kantong udara di salah satu atau kedua paru-paru. Pada pengidap pneumonia, sekumpulan kantong-kantong udara kecil di ujung saluran pernapasan dalam paru-paru akan membengkak dan dipenuhi cairan.

Gejala khasnya meliputi batuk, nyeri dada, demam, dan kesulitan bernapas. Alat diagnostik mencakup rontgen dan pengambilan kultur dari sputum (air lendir/ludah). Vaksin untuk mencegah jenis pneumonia tertentu kini sudah tersedia. Pengobatan yang dilakukan bergantung pada penyebab dasarnya. Dugaan pneumonia bakterial diobati dengan antibiotik. Jika pneumonianya parah, penderita biasanya dirujuk ke rumah sakit.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *